MANADO, TayangManado.com – Salah satu komoditas utama penyumbang inflasi di Sulawesi Utara (Sulut) adalah cabai. Pada Juni 2025, secara tahunan (yoy), komoditas Cabai Rawit dan Cabai Merah Keriting (CMK) menjadi pendorong utama inflasi di Sulawesi Utara dengan andil masing-masing sebesar 0,71% dan 0,11%. Artinya, harga Cabai Rawit dan CMK pada Juni 2025 lebih mahal dibandingkan Juni 2024.
Dalam upaya menjaga stabilitas harga pangan, Bank Indonesia (BI) Sulut terus memperkuat ketersediaan pasokan komoditas pangan, terutama barito (bawang, rica/cabai, dan tomat) dengan mengambil langkah langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas petani lokal di Sulawesi Utara. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui program PATUA (Petani Unggulan Sulawesi Utara) yang sebelumnya bernama PUBI (Petani Unggulan Bank Indonesia).
Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut Joko Supratikto mengatakan PATUA yang telah memasuki angkatan ke-6 ini bertujuan untuk menciptakan petani Sulut yang memiliki mindset kuat dan keterampilan unggul dalam pengelolaan lahan pertanian secara modern. Program ini mencakup pelatihan, pendampingan serta peningkatan kapasitas dan daya saing petani melalui penguatan 3 pilar yaitu penguatan aspek kelembagaan, peningkatan kapasitas dan akses pembiayaan.
“Perlu disampaikan bahwa Bapak Ivan Welang sebagai Ketua Koperasi Rukun Pemuda Kristen Taraitak (RPKT) merupakan PATUA angkatan 2021 dengan komoditas utama CMK di bawah Kelompok Tani (Poktan) Palemboyan yang merupakan bagian dari RPKT. Kelompok RPKT merupakan rukun pemuda dan pemudi generasi milenial dan dan gen z berumur 17-30 tahun yang berhasil menjadi penggerak petani milenial di Desa Taraitak. Saat ini, total anggota berjumlah 106 anak muda dan mayoritas merupakan petani,” jelas Joko dalam sambutannya di Desa Taraitak, Kabupaten Minahasa, kemarin.
Mempertimbangkan konsistensi penanaman CMK didukung jumlah lahan yang cukup luas dan tentunya semangat yang tinggi dari para petani muda RPKT dalam membudidaya komoditas Cabai, maka pada tahun 2024 KPwBI Sulut menyalurkan bantuan Program Ketahanan Pangan kepada Poktan Palemboyan berupa hand tractor, sprayer, bibit untuk kebutuhan 4 Ha CMK, aneka pupuk, mulsa, fungisida dan insektisida.
“Melalui program bantuan ini bukan hanya untuk pengendalian inflasi tetapi juga mendorong lahimya petani milenial yang produktif dan berdaya saing melalui penerapan Good Agriculture Practices (GAP). Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan keberlanjutan sektor pertanian dan mendukung program Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam mewujudkan swasembada pangan,” jelas orang nomor 1 di BI Sulut ini.
“Kami percaya bahwa generasi muda adalah aktor penting dalam pertanian modern yang berbasis inovasi. Dukungan Bank Indonesia hari ini adalah bentuk nyata keberpihakan kami terhadap petani muda, sekaligus bagian dari strategi nasional pengendalian inflasi melalui penguatan sisi pasokan,” pungkasnya.
(RG)







