MANADO, TayangManado.com – UMKM memiliki kemampuan beradaptasi dengan dinamisnya kondisi pasar dan lingkungan strategis. Ini juga yang jadi keunggulan UMKM mampu bertahan di tengah situasi yang sulit dan tidak pasti.
Contoh saat pandemi COVID-19 melanda Indonesia pada 2020-2022, sebagian besar sektor ekonomi termasuk UMKM merasakan dampaknya. Namun, pandemi COVID-19 juga menghadirkan dampak positif yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan digital. UMKM cepat beralih mengadopsi model bisnis digital terbukti mampu bertahan melewati badai pandemi dan bahkan mampu terus meningkatkan penjualannya.
Melihat kondisi ini, Bank Indonesia (BI) turut berperan dalam mendorong peningkatan UMKM untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dukungan BI dalam rangka peningkatan UMKM dilandasi oleh beberapa alasan strategis.
“Pertama, UMKM memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional yang terlihat dari tingkat penyerapan tenaga kerja dan sumbangan terhadap PDB. Kedua, penguatan UMKM tentunya diharapkan dapat mendukung terwujudnya stabilitas ekonomi. Ketiga, UMKM berperan dalam pemerataan ekonomi dan inklusi keuangan, yang tentunya sejalan dengan tujuan BI untuk menciptakan sistem keuangan yang lebih inklusif,” ujar Kepala BI Sulut, Joko Supratikto kepada TayangManado.com.
Sebagai upaya mendorong pengembangan UMKM, BI memfokuskan pada tiga strategi utama. Pertama, Korporatisasi – BI berkolaborasi dengan berbagai instansi mendorong UMKM untuk meningkatkan skala ekonomi maupun nilai tambah, melalui penguatan kelembagaan dan perluasan mitra, seperti fasilitasi dan pendampingan sertifikasi halal UMKM. Kedua, Kapasitas – Pada pilar ini BI mendorong UMKM melalui program edukasi dan pelatihan, mendampingi UMKM dalam pengelolaan usaha, pemasaran digital dan inovasi produk agar mampu bersaing di pasar global.
“Ketiga, Akses Pembiayaan di mana kami mendukung penguatan skema pembiayaan UMKM melalui kebijakan makroprudensial, seperti insentif bagi perbankan untuk mendorong penyaluran kredit bagi UMKM. Selain itu, kami juga turut mendukung pencatatan keuangan digital melalui Aplikasi SIAPIK (Sistem Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan) yang dapat diterapkan oleh semua UMKM,” imbuh Joko.
Dengan peningkatan aspek korporatisasi, UMKM diharapkan dapat terintegrasi dengan ekosistem bisnis yang lebih besar dan lebih luas. Peningkatan aspek kapasitas akan membantu UMKM dalam mengembangkan inovasi produk, meningkatkan kualitas dan memperkuat strategi pemasaran. Sementara, akses pembiayaan yang lebih luas akan memberikan modal yang cukup bagi UMKM untuk berkembang dan memperluas usahanya.
Melalui kombinasi ketiga strategi ini, UMKM diharapkan dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi, menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sinergi dan kolaborasi antara BI, pemerintah, instansi terkait dan mitra strategis lainnya menjadi key driver dalam mengakselerasi pengembangan UMKM sebagai new source of growth. Perpaduan antara kebijakan dan program kerja diharapkan mampu menciptakan ekosistem usaha yang lebih inklusif dan berdaya saing.
“Dengan dukungan tersebut, UMKM dapat tumbuh lebih kuat, berkontribusi pada perekonomian nasional dan adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan serta perubahan lingkungan strategis yang selalu dinamis,” pungkas orang nomor 1 di BI Sulut ini.
(RG)






