MANADO, TayangManado.com – Mila Amelia, pemilik usaha Badonci, sudah menjadi pelaku UMKM di Kota Manado sejak tahun 2017. Dia mengaku usahanya mendapaat omset hingga Rp5 juta.
Namun dia merasa masih belum maksimal dari usahanya ini. Hingga di tahun 2020 dia mendapatkan informasi mengenai Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI) Sulawesi Utara. Mila pun mendaftar sebagai calon peserta.
Ternyata, langkahnya ini membuahkan hasil. Dari 80 orang yang ikut, dia berhasil menjadi 5 terbaik dari 21 wisudawan WUBI Sulut 2021.
“Terus terang, pas daftar BI, omset baru sekitar Rp 5 juta, kemudian setelah didampingi sepanjang 1 tahun omset saya naik 300 persen. Produknya ikut banyak variannya juga,” kata dia.
Dia bersyukur, pendampingan BI Sulut membuka pola pikirnya menjadi baru. Selain itu kapasitas dirinya juga ikut meningkat pasca menjadi WUBI.
“Ternyata pola pikir itu mempengaruhi semua hal. Kalau itu sudah baik maka semuanya akan mengikuti. Jadi pola pikir itu kuncinya, dan itu berawal dari Bank Indonesia. Tidak memuji tapi itu realita yang saya alami, jadi benar-benar pendampingan BI berdampak baik bagi seluruh peserta WUBI,” kata dia lagi.
Kini produk olahannya sudah dijual di beberapa ritel modern, bahkan sampai berskala nasional. Selain itu, pesanan dari beberapa negara sudah dia terima.
“Sekarang ini tinggal selangkah lagi untuk ekspor. Bersyukur sudah ada 2 pembeli dari China dan Singapura yang mau pesan. Saya juga beberapa waktu lalu ikut pameran yang difasilitasi kementerian dari Malaysia dan Brunei Darussalam, itu karena lolos kurasi nasional,’ pungkas perempuan berusia 48 tahun yang usahanya sudah berbadan hukum dengan nama PT Badonci Kawanua Jaya ini,” pungkasnya.
Kesuksesan Mila Amelia tidak lepas dari peran Bank Indonesia Sulawesi Utara yang konsisten membina UMKM di Bumi Nyiur Melambai. Sampai tahun ini, BI Sulut sudah membina 229 UMKM yang ada di daerah ini. Persebarannya pun sudah menyentuh 15 kabupaten kota se_Sulut.
Yang berbeda hanyalah nama penyebutan dari himpunan pelaku-pelaku UMKM itu sendiri. Tahun 2020, namanya identik dengan WUBI dan PUBI (Petani Unggulan Bank Indonesia). Berapa tahun terakhir nama itu diganti menjadi Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara (WANUA) dan kedua yaitu PATUA ( Petani Unggulan Sulawesi Utara).
Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut Joko Supratikto menjelaskan saat ini 229 UMKM binaan BI Sulut terdiri atas 146 WANUA dan 83 PATUA. Adapun WANUA terdiri atas 102 UMKM makanan/minuman olahan, 21 UMKM kerajinan/kriya, 4 UMKM pakaian jadi, 12 UMKM Kopi, dan 7 UMKM dengan komoditas lainnya yang tersebar di 12 kabupaten kota. Sedangkan PATUA terdiri atas 56 komoditas cabai, 9 tomat, 3 bawang merah, 6 padi, 3 jagung, dan 6 komoditas lainnya yang telah tersebar di 15 kabupaten kota.
Joko menjelaskan BI Sulut turut menjalankan berbagai program pengembangan UMKM yang mengacu pada 3 pilar sebagai framework. Pertama penguatan korporatisasi, kemudian peningkatan kapasitas, dan terakhir yaitu perluasan akses pembiayaan.
Patua dan Wanua sendiri adalah program yang merupakan serangkaian pelatihan sejak tahun 2020 dan pada menyasar pada UMKM sektor fashion, kerajinan serta makanan dan minuman olahan khas daerah untuk program WANUA serta kelompok tani pangan strategis untuk program PATUA.
“Pendekatan pelatihan dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir, menyesuaikan tahapan perkembangan usaha mulai dari kelompok subsisten hingga pelaku ekspor,” jelas Joko.
Rangkaian program pelatihan PATUA WANUA dimulai dari tahap open recruitment, dilanjutkan dengan kurasi dan boothcamp, in-class training dan sekolah lapang khusus PATUA, business matching pembiayaan bersama perbankan, business matching perdagangan dengan offtaker, promosi perdagangan melalui berbagai pameran baik lokal, regional, nasional hingga ke luar negeri, monitoring perkembangan produksi, studi visit ke champion untuk memperkaya referensi, dan penutupan program di akhir tahun. Beberapa kegiatan juga dilakukan mengacu pada 3 pilar pengembangan UMKM BI.
(RG)






